Monthly Archives: November 2014

Ada Rp 100 Triliun dari Kenaikan BBM, Basuki Ingin Rp 23 Triliun Buat PU Pera

28Jakarta -Pemerintah telah mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan menaikkan harga. Kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000/liter menciptakan tambahan anggaran sekitar Rp 100 triliun.

Dalam rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera) Basuki Hadimuljono menyampaikan menyampaikan bahwa pihaknya mengusulkan pemanfaatan dana subsidi tersebut sebesar Rp 23 triliun.

“Dari penghematan subsidi BBM, Kementerian PU Pera mengusulkan pemanfaatan sebesar Rp 23 triliun,” ujar Basuki dalam rapat yang digelar di Ruang Rapat Komite II, Gedung B DPD lantai 3, komplek MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat (28/11/2014).

Dana Rp 23 triliun tersebut, sambung Basuki, akan dimanfaatkan untuk pembangunan berbagai infrastruktur. Berikut perinciannya:

  • Sumber daya air seperti bendungan dan irigasi Rp 4 triliun.
  • Perumahan rakyat Rp 1 triliun.
  • Cipta Karya (sanitasi dan infrastruktur perdesaan) Rp 7 triliun.
  • Perbaikan dan perawatan jalan dan jembatan Rp 11 triliun.

Sumber : www.detikfinance.com

Harga Minyak Masih Anjlok di Bawah US$ 80/Barel

Venezuelan President Chavez takes a sample of crude during weekly broadcast at nationalized oil field at Orinoco's beltJakarta -Harga minyak dunia masih terus turun. Ini menyambut pertemuan negara-negara produsen minyak OPEC hari yang rencananya akan dilakukan hari ini di Wina.

Naiknya stok minyak AS sebesar 1,9 juta barel dari pekan sebelumnya, turut memicu kenaikan anjloknya harga minyak dunia.

Dilansir dari BBC, Kamis (27/11/2014), harga minyak jenis Brent semalam turun 0,8 sen menjadi US$ 77,75/barel.

Turunnya harga minyak dunia juga didorong oleh indikasi, bahwa Arab Saudi selaku salah satu produsen minyak terbesar dunia, tidak mau menurunkan produksinya untuk mengangkat harga di pasar.

Sementara harga minyak produksi AS turun 40 sen menjadi US$ 73,69/barel. “Pasar minyak akan stabil dengan sendirinya,” demikian kata Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali al-Naimi.

Di OPEC, Arab Saudi merupakan produsen minyak terbesar, dari 12 negara yang jadi anggota. Pertemuan OPEC dilakukan untuk mencari cara menahan jatuhnya harga minyak.

Sejak Juni, harga minyak jenis Brent telah terjun 30%. Ini dipicu oleh naiknya produksi shale oil di AS, dan melemahnya permintaan minyak dunia.

Ada spekulasi yang mengatakan, pertemuan OPEC pada hari ini akan mengumumkan soal pemangkasan produksi untuk pertama kalinya sejak 2009, untuk mengangkat harga minyak di pasar.

Di antara apra anggota OPEC, Venezuela dan Iraq yang mendukung rencana pemangkasan produksi ini.

Namun, Uni Emirat Arab (UEA) sepertinya akan bertindak yang sama dengan Arab Saudi. Menteri Perminyakan UEA, Shuail bin Mohammed al-Mazroi tidak mau memangkas produksi minyak.

“Kami tidak mau panik, karena kondisi ini bukan yang pertama kali terjadi. Ini buka sebuah krisis yang membutuhkan kepanikan,” jelas al-Mazroi.

Rusia yang memproduksi 11% minyak dunia juga menyatakan tidak mau memangkas produksinya.

Sumber : www.detikfinance.com

Rencana ‘Sulap’ Bendungan Jadi PLTA Dapat Restu Jokowi

26Jakarta -Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera) berencana untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di 203 bendungan. Rencana tersebut sudah mendapat restu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menteri PU Pera, Basuki Hadimuljono mengatakan, selain ‘menyulap’ 203 bendungan yang sudah ada, nantinya bendungan baru yang akan dibangun juga akan dilengkapi dengan fasilitas PLTA.

“Jadi begini idenya. Kita mau bikin banyak bendungan, dan itu pasti bisa didesain multipurpose (serbaguna),” kata Basuki saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (26/11/2014).

Ide ini, lanjut Basuki, sudah disampaikan ke Jokowi. Dia mengungkapkan, Jokowi sudah memberikan persetujuan lisan.

“Saya punya ide disampaikan ke Bapak Presiden, daripada kita bangun bendungan tok (saja). Dan beliau setuju,” ujar Basuki.

Apabila ini sudah dilakukan, tambah Basuki, diharapkan krisis listrik di sejumlah wilayah Indonesia bisa teratasi.

“Kita tidak ingin lagi ada daerah yang listrik saja nggak mengalir ke sana. Pasti ada cara, toh kita banyak sumber daya. Restu Presiden ini mendorong kita untuk lebih giat merealisasikannya,” pungkas dia.

Sumber : www.detikfinance.com