Monthly Archives: July 2015

JK: Megaproyek kelistrikan, tak boleh satupun dari luar negeri

jk-megaproyek-kelistrikan-tak-boleh-satupun-dari-luar-negeri

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan proyek jaringan transmisi listrik sepanjang 46 ribu kilometer harus menggunakan bahan baku dalam negeri. Dia menargetkan megaproyek ini tuntas selambatnya lima tahun mendatang.

“Tidak boleh ada satu pun dari luar negeri. Baja dari Krakatau Steel, komponen-komponen lain dari dalam negeri, pabrikasinya harus industri dalam negeri,” kata JK di kantornya, Jakarta, Kamis (30/7).

Dia mengatakan setiap pembangunan di Indonesia harus memegang sejumlah prinsip. Yaitu, bermanfaat besar bagi anak bangsa dan dilaksanakan tepat waktu.

“Pemasangannya nanti harus mengajak kontraktor menengah di daerah. Didik kontraktor yang biasa mengerjakannya bekerja sama dengan kontraktor daerah. Itulah prinsipnya.”

Dalam proyek ini, kata JK, perusahaan pelat merah dan swasta bakal memiliki peluang sama untuk terlibat. Terkait pendanaan, dia menjelaskan, berasal dari APBN, kas PLN, perbankan lokal, dan asing.

Namun porsinya belum ditentukan.

Sumber : www.merdeka.com

Salip Jakarta, Palembang segera bangun LRT pada November 2015

salip-jakarta-palembang-segera-bangun-lrt-pada-november-2015

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Pemprov Sumatera Selatan Nasrun Umar mengatakan, pemancangan proyek jalur kereta ringan (light rail transit/LRT) di Palembang direncanakan pada November 2015. Hal ini berbeda jauh dengan kondisi di Ibu Kota Indonesia, DKI Jakarta, di mana belum ada kejelasan kapan pembangunan LRT dilakukan.

“Tak tanggung-tanggung, LRT ditargetkan sudah pemancangan tiang pertama paling lambat pada November 2015,” kata Nasrun yang dijumpai seusai sosialisasi keselamatan transportasi sungai di Palembang, seperti dilansir dari Antara, Kamis (30/7).

Menurut dia, pemerintah mempercepat realisasi pembangunan LRT Palembang untuk mengejar target penggunaan pada Asian Games ke-18 tahun 2018. Dia mengemukakan, Presiden Joko Widodo telah menyetujui pembangunan LRT dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hingga Jakabaring, Palembang pada 2016.

“Sumsel tinggal menunggu Keppres terkait proyek ini. Dan pada prinsipnya, LRT Palembang ini sudah masuk prioritas pemerintah pusat seperti yang disampaikan Menteri BUMN saat berkunjung ke Palembang,” kata dia.

Pemprov Sumsel telah mengajukan LRT tersebut nantinya akan memiliki 14 tempat pemberhentian (stasiun) dari bandara hingga ke tempat keberadaan Kompleks Olahraga Jakabaring.

“Proyek ini direncanakan akan dimulai pada tahun depan, dan pada intinya sebelum Asian Games harus sudah selesai,” kata dia.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Alex Noerdin dalam kesempatan berbeda mengatakan LRT menjadi kebutuhan mendesak mengingat kemacetan di Kota Palembang sangat mengganggu dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan penelitian, dia memaparkan, kemacetan di Palembang terbilang luar biasa untuk beberapa ruas jalan karena rasio jumlah kendaraan dan kapasitas jalan sudah mencapai angka dua.

“Melebihi angka satu saja sudah menimbulkan macet, apalagi saat ini sudah dua. Artinya, jika tidak ada intervensi maka pada 2018 bisa macet total, keluar garasi langsung berhadapan dengan kemacetan,” kata Alex.

Sumber : www.merdeka.com

BI: Ekonomi RI cukup kuat hadapi gejolak pasar keuangan global

bi-ekonomi-ri-cuku-kuat-hadapi-gejolak-pasar-keuangan-global

Bank Indonesia menyatakan ekonomi Indonesia cukup kuat dalam menghadapi gejolak pasar keuangan global. Meski ekonomi melambat, stabilitas makro dan sistem keuangan tetap terjaga.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kepercayaan pelaku pasar relatif baik. Ini mampu mendorong arus masuk modal asing, baik portofolio maupun investasi langsung.

“Keberhasilan ini ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia yang terukur serta koordinasi yang erat dengan Pemerintah melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial dan fiskal,” ujarnya di Palembang, Kamis (30/7).

Dalam jangka menengah, menurutnya, ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh lebih tinggi, inklusif dan berkelanjutan. Asalkan, pemerintah tetap menjaga stabilitas dan mengantisipasi normalisasi kebijakan the Fed.

Kemudian, implementasi kebijakan reformasi struktural dan percepatan meningkatkan kapasitas dan daya saing perekonomian nasional.

“Kebijakan reformasi subsidi merupakan awal yang sangat baik dan diharapkan diikuti dengan kebijakan reformasi struktural selanjutnya,” jelas dia.

Di tempat yang sama, Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tergantung komoditas mentah. Seperti, batu bara, karet, kelapa sawit.

“Namun, dalam beberapa tahun sekarang ini harga komoditi unggulan tersebut harganya juga menurun terutama negara tujuan ekspor,” ujarnya.

Sumber : www.merdeka.com