Monthly Archives: August 2015

Ambisi Jokowi Agar Padi, Jagung, dan Kedelai Bebas dari Impor

065711_jokowi

Jakarta -Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi deadline atau batas terakhir pada Kementerian Pertanian untuk dapat mencapai swasembada pangan khususnya beras, jagung, dan kedelai dalam waktu tiga tahun, atau ‎di 2018. Diharapkan setelah 3 tahun, tak ada lagi impor ketiga komoditas pangan bisa ditekan serendah-rendahnya.

Untuk mencapai hal tersebut, beberapa langkah strategis dirancang Kementan, yang dirangkum dalam upaya khusus (Upsus) swasembada pangan, dengan fokus pada 7 komoditas utama yaitu padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, daging, dan gula.

Khusus untuk tiga tahun ke depan, Kementan membentuk tim Upsus padi, jagung, kedelai (pajale) yang tugasnya menggenjot produksi 3 komoditas pangan tersebut. Caranya, melalui berbagai upaya seperti perbaikan jaringan irigasi, perluasan areal tanam, mekanisasi dengan alat-alat pertanian modern, bantuan sarana produksi (banih, pupuk, pestisida), dan lainnya.

Kementan juga menggandeng TNI AD yang kemudian menerjunkan personel badan pembina desa (babinsa) untuk turut turun ke sawah bersama petani. Selain itu, eksekusi meningkatkan produksi disusun lebih teknis sesuai kendala yang dihadapi di lapangan, sehingga tak sepenuhnya menuruti roadmap atau kerangka yang telah disusun di atas kertas.

Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementan, Gardjita Budi mengatakan, dirinya optimistis dengan produksi beras, jagung, dan kedelai. Namun dari ketiga ini yang menjadi fokus utama kementeriannya adalah beras, khususnya tahun ini.

“Kami berusaha sebanyak-banyaknya padi, jagung dan kedelai dipenuhi dari produksi dalam negeri. Impor kalau untuk ketiga komoditas tersebut harus terukur dan selektif betul. Sejauh ini produksi kedelai untuk dijadikan tempe hanya dari kedelai lokal memang belum mencukupi. Substitusi kedelai masih kecil skalanya untuk serealia sumber protein habati,” Gardjita Budi pekan lalu, kepada detikFinance.

Sementara itu,. Direktur Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto, yang saat ini juga menjadi Koordinator Upsus Pajale, berupaya mengatasi kendala di lapangan dan habis-habisan menangani peningkatan produksi padi di tahun ini. Hasilnya, ada tambahan luas tanam hingga 400.000 hektar.

“Kami punya penambahan luas tanam padi sampai 400 ribu hektar periode Oktober-Maret. April-September diprediksi bisa tambah lagi 200.000 hektar. Ini tabungan kita. Padi saya yakin optimistis tahun ini surplus sesuai ARAM (angka ramalan) BPS bahkan lebih. Kami selesaikan satu-satu. Ini padi dulu, tahun depan kami selesaikan jagung dan kedelai. Saya suruh menangani padi, jagung, kedelai di tahun yang sama ya kewalahan, kami harus realistis. Padi ketemu caranya di tahun pertama dan tinggal melanjutkan, baru urus kedelai dan jagung,” terang Gatot.

Berikut data Bappenas soal jumlah produksi dalam negeri yang diperlukan untuk mencapai kedaulatan pangan dari 2014 hingga 2019:

Padi 70,6 juta ton (2014) menjadi 82 juta ton (2019)
Jagung 19,2 juta ton (2014) menjadi 24,1 juta ton (2019)
Kedelai 0,9 juta ton (2014) menjaddi 2,6 juta ton (2019)
Gula 2,6 juta ton (2014) menjadi 3,8 juta ton (2019)
Daging 452,7 ribu ton (2014) menjadi 755,1 ribu ton (2019)
Ikan 12,4 juta ton (2014) menjadi 18,8 juta ton (2019)
Garam 2,5 juta ton (2014) menjadi 4,5 juta ton (2019)
(hen/dnl)

Sumber : www.detikfinance.com

 

Hisense Tak Gentar Lawan Xiaomi & Asus

080303_hisensepureshot

Kuta – Pasar ponsel Indonesia sudah penuh sesak tapi kenyataan itu tak membuat Hisense gentar meski hadir belakangan. Berbekal ponsel perdana yang siap dipasarkan, Hisense Pureshot, vendor asal China ini yakin punya kelebihan untuk menantang lawan seperti Xiaomi, Asus dan lain-lain.

Stephen Qu, President Director Hisense International Indonesia menyatakan pihaknya bisa saja masuk pasar Indonesia bertahun lampau. Tapi Hisense memilih sekarang karena merasa momentumnya tepat, yakni implementasi jaringan 4G LTE di Indonesia. Hisense Pureshot dirancang dapat berjalan di semua band 4G LTE.

“Kami akan dua kaki, satu kemitraan dengan operator dan di open market. Dua duanya harus kuat. Bekerja sama dengan Smartfren sekitar lima tahun, kami punya pengetahuan dan mengerti pasar Indonesia. Yang lain mungkin tak punya keunggulan ini,” klaim Stephen di Kuta, Bali.

Selain itu, Hisense juga bekerja sama dengan Qualcomm sebagai penyedia chipset, termasuk di handset Pureshot. Stephen pun yakin Pureshot adalah produk ponsel yang tepat untuk pasar Indonesia dan punya value lebih di kelasnya.

“Kami datang dengan produk yang tepat. Tidak ada produk sempurna, yang penting ada keseimbangan fitur apa yang menyediakan best value bagi konsumen. Saya sangat yakin kalau Pureshot adalah produk yang tepat di segmennya. Tanggapan awalnya bagus dan akan laku,” yakin Stephen.

Stephen juga menyinggung layanan servis Hisense sudah tersebar di seluruh Indonesia. Sebab, mereka sudah menyediakan layanan servis sejak ponsel Andromax buatannya dipasarkan oleh Smartfren.

Dengan berbagai alasan yang sudah disebutkan itu, Hisense pun percaya diri akan diminati meski persaingan sangat ketat. Selain mendukung seluruh jaringan operator di Indonesia, Hisense Pureshot juga diklaim unggul dalam kemampuan kamera.

“KIta ingin handset ini begitu masuk pasaran ada value-nya, bukan sekadar ikut-ikutan ramai atau yang penting murah. Dia punya 4G yang bisa all band, dia punya dual SIM Card bisa dipakai mulai CDMA, GSM, 4G, 3G masuk semua,” kata Ferrij Lumoring, Chief Technology Officer PT Prakarsa Visi Valutama selaku Hisense Authorize.

“Kameranya juga berkualitas padahal harganya jauh di bawah premium. Kalau handset premium fotonya bagus ya nggak usah heran. Kalau handset ini harganya cuma setengahnya atau bahkan sepertiganya juga bisa menghasilkan foto bagus. Dalam kondisi tertentu sudah nggak perlu bawa kamera DSLR, cukup bawa ponsel ini,” klaim Ferrij.

Kondisi tertentu yang dimaksud misalnya saat sedang jalan-jalan dan merekam momen yang tidak perlu sampai menggunakan kamera sekelas DSLR. Hisense Pureshot sendiri rencananya akan dijual pada awal September bersama Smartfren dengan banderol mulai Rp 2,7 juta. (fyk/rou)

Sumber : www.detikinet.com

Tekan Impor Pangan, Pemerintah Jokowi Tak Ingin Didikte Negara Lain

081209_jokowi1

Jakarta -Presiden Joko Widodo (Jokowi) berambisi, agar sejumlah bahan pangan pokok seperti padi, jagung, kedelai harus swasembada dalam 3 tahun. ‎Harapannya setelah 3 tahun, impor pangan ketiga jenis komoditas ini bisa ditekan serendah-rendahnya.

Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), satu negara disebut swasembada bila mampu memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri minimal 90%, atau jumlah impornya maksimal hanya 10% dari kebutuhan.

Kementerian Pertanian (Kementan) kemudian menyusun program Upaya Khusus (UPSUS) swasembada padi, jagung, dan kedelai (Pajale) yang harus tuntas dalam 3 tahun. Kementan telah berupaya melakukan pengetatan impor terhadap jagung sejak akhir Juli 2015.

“Kami berusaha supaya bahan pangan pokok bisa sebanyak-banyaknya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Impor kalau untuk padi, jagung dan kedelai, ketiga komoditas tersebut harus terukur dan selektif betul berdasarkan kebutuhan,” jelas Gardjita Budi, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, kepada detikFinance pekan lalu.

Gardjita menilai, Angka Ramalan (ARAM I) Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi padi, jagung, dan kedelai naik. Ini membuat Kementan semakin yakin, swasembada akan tercapai dalam waktu singkat.‎ Namun dari ketiga komoditas itu, padi menjadi yang paling prioritas utama.

“Padi saya tidak khawatir pasti bisa swasembada. Jagung dan kedelai diakui belum terpenuhi sendiri. Kami lihat konsistensi kebijakan sekarang. Jagung kemarin ekspor dari NTB tapi juga masih impor,” tambahnya.

Menurut Gardjita, Kementan tidak hanya ingin puas sampai swasembada, tapi sampai ke kedaulatan pangan. Artinya dalam jangka panjang Indonesia tak boleh bergantung pasokan pangan dari negara lain.

“Desain pangan tidak didikte negara lain. Tidak tergantung negara lain. Sebesar-besarnya kalau bisa adalah produksi dalam negeri. Kedelai, jujur sekarang belum sampai swasembada. Konsumsi kedelai untuk tempe belum tercukupi dari produksi dalam negeri dan substitusinya dengan serealia lain masih skala kecil,” terang Gardjita.

Senada dengan Gardjita, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana (PSP) Kementerian Pertanian Sumardjo Gatot Irianto mengatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini tegas mengendalikan impor dan Kementan tengah melakukan berbagai upaya strategis untuk menggenjot produksi padi, jagung, dan kedelai.

“Kebijakan pemerintah sudah jelas, kendalikan impor. Impor karena kebutuhan, bukan keinginan. Selama ini impor dibuka bukan karena faktor kondisi produksi, tapi karena faktor beras jadi komoditas yang dipolitisasi,” ujar Gatot yang saat ini sekaligus menjadi Koordinator Upsus Pajale, kepada detikFinance.
(hen/dnl)

Sumber : www.detikfinance.com