Monthly Archives: April 2016

Pemerintah AS Mau Bikin WhatsApp Anti Sadap

05cca887-e9e4-4762-9a86-59e51c6ebf1d_169

Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat berencana untuk membuat platform messaging mirip WhatsApp yang tidak bisa diretas. Rencana ini dikemukan oleh lembaga pemerintahan AS yang khusus menangani riset lanjutan, The Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

Lewat sebuah situs, DARPA membuat sebuah permintaan yang isinya mendatangkan kandidat untuk menggarap sebuah platform messaging dan transaksi yang bisa diakses melalui web browser atau aplikasi mandiri (stand alone).

Dalam permintaannya, DARPA menunjuk aplikasi tersebut dipakai untuk kepentingan militer. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika nantinya platform tersebut bisa dikomersialisasikan — atau dengan kata lain dipakai untuk umum, meski belum jelas bagaimana pengaplikasiannya nanti.

“Para eksekutif itu bisa yakin bahwa sistem logistik mereka efisien, tepat waktu, dan aman dari hacker,” tulis DARPA seperti dikutip detikINET dari Telegraph, Selasa (26/4/2016).

Dalam pernyataannya itu, DARPA juga meminta agar nantinya platform tersebut menghadirkan sejumlah fitur seperti self-destructing message — pesan yang otomatis bisa hancur sendiri seperti di film Mission Impossible — atau pesan yang bisa dilihat hanya sekali.

DARPA berpendapat jika layanan pesan yang dipakai oleh militer AS saat ini tidaklah cocok, dengan sistem komunikasi yang rentan terhadap intersepsi.

“Infrastruktur dan perpesanan bawaan itu mahal, tidak efisien, dan rapuh terhadap serangan cyber. Biaya perawatannya pun semakin meningkat,” pungkasnya. (rou/rou)

Sumber : www.detikinet.com

Perusahaan China Ini Mau Bangun Pembangkit Listrik di Kalimantan Rp 5,2 T

c9371b37-aee9-40cb-9951-a353f63aead1_169 (1)

Suzhou -Golden Concord Holdings Limited (GCL-Poly) tengah bersiap membangun pembangkit listrik berkapasitas 200 Mega Watt (MW) di Singkawang, Kalimantan Barat.

Perusahaan yang fokus sebagai pemasok energi hijau ini, telah menyiapkan dana sebesar US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,2 triliun (kurs Rp 13.000) untuk memuluskan rencananya ini.

Demikian disampaikan Vice Chairman Chief Executive Officer GCL, Sha Hongqiu, saat berdiskusi bersama jurnalis dari negara-negara ASEAN dalam kunjungan di kantornya, Century Avenue, Pudong, New Area, Shanghai, China, Minggu (24/4/2016).

“Kami akan bangun pembangkit listrik 200 MW di Singkawang, Kalimantan Barat. Kami siapkan US$ 400 juta,” ujar Sha.

Dia menjelaskan, saat ini, proses yang belum terselesaikan adalah soal pembebasan lahan. Rencananya, pembangkit listrik ini akan menempati area seluas 30 hektar.

“Sekitar 30 hektar,” katanya.

Pembangunan pembangkit listrik ini akan dilakukan dengan skema joint venture, antara GCL dengan perusahaan lain. Nantinya, GCL akan menjadi pemilik saham mayoritas hingga 65%, sementara sisanya dipegang perusahaan lainnya.

Sha menargetkan, proyek ini bisa berjalan tahun depan.

“Saat ini sedang menunggu proses pembebasan lahan. Setelah tanda tangan kontrak selesai juga selesai masalah pembebasan lahan, kami mulai bekerja. Kami akan mulai tahun depan. Indonesia sangan penting bagi kami,” imbuh Sha.

Di sisi lain, lanjut Sha, pihaknya fokus untuk mengembangkan bisnis energi hijau atau energi baru terbarukan. Salah satunya adalah penggunaan solar power atau panel surya.

Saat ini, gedung GCL menggunakan solar power untuk mendukung kebutuhan listrik perusahaan. Dengan solar power, Sha menyebutkan, perusahaan mampu menghemat energi sekitar 30%.

“Ini salah satu gedung menggunakan energi solar. Efisiensi sampai 30%. Ke depan, solar power adalah tulang punggung energi di Asia,” ucap dia.

Di negara lain, kata Sha, sudah menerapkan penggunaan solar power, seperi di Tibet dan Mongolia.

Jangan khawatir jika tak ada sinar matahari. Pihaknya memiliki storage yang khusus menyimpan solar energi sehingga bisa dipakai 24 jam.

“Contoh di Tibet panel surya. Di Mongolia juga ada pakai produk kita. Ada storage untuk menyimpan energi, jadi listrik bisa 24 jam menyala,” paparnya.

Berdasarkan pantauan detikFinance di lokasi, gedung GCL ini desainnya memang sangat mewah. Banyak ruang terbuka dan sangat terang.

Penggunaan teknologinya juga canggih. Salah satunya saat melakukan presentasi proyek-proyeknya yaitu pembangunan gedung dengan energi baru terbarukan yang menyadur konsep gedung di Singapura.

Para jurnalis diajak di suatu tempat khusus untuk pertunjukan proyek-proyek perusahaan. Disediakan layar besar dan dihiasi lampu-lampu warna-warni.

Tak hanya gambar dan suara, di ruang tersebut juga terdapat gedung-gedung miniatur dan pemandangan China dari atas udara.

Dengan begitu, kita seolah-olah menyaksikan langsung fisik gedung sesungguhnya dan seakan melihat langsung dari udara.

Informasi saja, GCL-Poly merupakan perusahaan terbuka yang sahamnya dicatatkan di bursa saham Hong Kong (Hang Seng Stock Exchange). Perusahaan ini didirikan tahun 1996.

(ewi/wdl)

Sumber : www.detikfinance.com

RI Mau Impor Daging Sapi dari Brasil, Meksiko dan India

3185ad35-6ed7-4caf-818a-1c48d228a79a_169

Jakarta -Pemerintah akan memperluas akses impor daging sapi dari negara maupun zona tertentu yang memenuhi syarat kesehatan hewan yang ditetapkan Badan Kesehatan Hewan Dunia untuk menambah alternatif sumber penyediaan hewan dan produk hewan.

“Kebijakan ini merupakan implementasi dari paket kebijakan ekonomi jilid IX untuk stabilisasi harga daging sapi,” ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Muladno dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/4/2016).

Ada beberapa alternatif negara yang bakal menjadi pemasok baru sapi ke Indonesia. Selama ini negara asal impor daging sapi ke Indonesia adalah Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Kanada dan Jepang.

“Beberapa alternatif baru negara pemasok daging ke Indonesia yaitu Brasil, India dan Meksiko, karena memiliki populasi ternak terbesar di Dunia,” kata dia.

Dasar hukum aturan ini adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak dan/atau Produk Hewan dalam Hal Tertentu yang Berasal dari Negara atau Zona dalam Suatu Negara Asal Pemasukan yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada tanggal 10 Maret 2016.

Sebagai tindak lanjut dari PP tersebut, saat ini sedang disusun Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) sebagai rujukan pelaksanaan teknis PP tersebut.

Terkait isu keamanan pangan dan kesehatan, mengingat 3 negara tersebut masih belum dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku, maka Pihak Kementan bakal membentuk tim pengawas khusus.

Sumber : www.detikfinance.com