Category Archives: Ekonomi

Daging sapi impor dari Australia dan Selandia Baru tak laku di pasar

daging-sapi-impor-dari-australia-dan-selandia-baru-tak-laku-di-pasar

Sejumlah pedagang di Kota Bandarlampung menjual daging sapi dengan harga tinggi. Impor daging beku dari Australia dan Selandia Baru yang telah dipasarkan sama sekali tidak mempengaruhi harga.

“Harga daging segar sapi tetap berkisar Rp 120.000- Rp 130.000 per kg atau belum turun, karena banyak warga yang memilih daging segar dibandingkan daging beku meski harganya lebih murah,” kata Andre, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Lelang Bandarlampung, seperti dikutip dari Antara, Kamis (9/6).

Menurut Andre, harga daging sapi hasil penggemukan tetap tinggi karena harga sapi di feedloter atau penggemukan dan rumah potong hewan masih bertahan tinggi.

“Hari ini (Kamis) saya beli sapi seharga Rp 42.700/kg, padahal sebelumnya Rp 42.500/kg. Bahkan harga sapi sudah ada yang mencapai Rp 43.000/kg. Penyebab utama tingginya harga daging sapi bukan di pengecer,” katanya.

Menurut dia, sepanjang harga sapi tetap tinggi maka harga dagingnya tetap mahal seperti sekarang ini. Para pedagang daging sapi lainnya menyebutkan harga daging sapi tertahan karena faktor impor daging beku sapi.

“Dua pekan lalu saya sempat jual Rp 130.000/kg, namun sekarang sudah pada harga normalnya Rp 120.000/kg,” kata Hasmani, salah satu pedagang daging sapi lainnya di Telubetung Bandarlampung.

Dia menyebutkan, dirinya menjual daging sapi lokal dan daging sapi impor hasil penggemukan.

“Permintaan atas daging saat Ramadan justru naik, apalagi menjelang Lebaran. Karenanya, agak sulit diprediksi apakah harga daging segar naik atau tidak, karena adanya faktor daging impor,” katanya.

“Masyarakat tetap lebih menyukai daging segar meski harganya lebih mahal,” katanya.

Daftar Pemberi Utang Terbesar ke Pemerintah RI

uang

Jakarta -Saat ini, Indonesia masih memiliki pinjaman luar negeri. Per Maret 2016, utang luar negeri pemerintah Indonesia (baik bilateral maupun multilateral) tercatat Rp 745,82 triliun, turun dari akhir Februari 2016 yang sebesar Rp 753,47 triliun.

Secara bilateral, Jepang, Prancis, dan Jerman masih menjadi kreditur terbesar utang Indonesia. Sementara secara multilateral, Indonesia masih meminjam dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Pembangunan Islam (IDB).

Berikut adalah pemberi pinjaman bilateral dan multirateral terbesar buat Indonesia, seperti dikutip dari data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Kamis (21/4/2016).

6. Islamic Development Bank (IDB)
Per Maret 2016, utang pemerintah Indonesia ke IDB mencapai Rp 8,75 triliun, naik dari bulan sebelumnya Rp 8,49 triliun. Persentasenya adalah 1,1% dari total utang luar negeri Indonesia.

5. Jerman
Hingga Maret 2016, utang pemerintah Indonesia ke Jerman mencapai Rp 21,82 triliun, naik tipis dari bulan sebelumnya Rp 21,55 triliun. Ini adalah 2,9% dari total utang luar negeri pemerintah pusat.

4. Prancis
Sampai Maret 2016, utang Indonesia ke Prancis mencapai Rp 26,38 triliun. Naik dari bulan sebelumnya Rp 25,98 triliun. Jumlah tersebut adalah 3,5% dari total utang luar negeri pemerintah pusat.

3. Bank Pembangunan Asia (ADB)
Utang dari ADB per Maret 2016 adalah Rp 121,01 triliun, turun dari bulan sebelumnya Rp 122,85 triliun. Jumlah ini adalah 16,2% dari total utang luar negeri pemerintah pusat.

2. Jepang
Negeri Matahari Terbit menempati posisi sebagai kreditur terbesar nomor 2 ke pemerintah Indonesia. Per Maret 2016, utang pemerintah Indonesia ke Jepang mencapai Rp 220,04 triliun, turun dari bulan sebelumnya Rp 222,05 triliun.

Utang tersebut mencapai 29,5% dari total pinjaman.

1. Bank Dunia
Bank Dunia saat ini menjadi pemberi utang luar negeri terbesar ke pemerintah Indonesia. Jumlahnya hingga akhir Maret 2016 mencapai Rp 221,43 triliun, turun dari bulan sebelumnya Rp 222,69 triliun.

Utang Indonesia ke Bank Dunia mencapai 29,7% dari total utang luar negeri pemerintah.

Selain 6 besar ini, Indonesia juga memiliki utang luar negeri ke negara ini:
Korea Selatan Rp 19,57 triliun
China Rp 12,03 triliun
Amerika Serikat (AS) Rp 10,87 triliun
Australia Rp 7,92 triliun
Spanyol Rp 3,89 triliun
Rusia Rp 3,56 triliun
Inggris Rp 3,39 triliun

Sumber : www.detikfinance.com

RI Impor Beras Rp 5,1 Triliun, Dari Mana Saja?

c330e25e-f190-4ca3-bdfd-c4dccf1e103f_169

Jakarta -Pemerintah memperbolehkan kalangan dunia usaha mengimpor beras untuk jenis premium dan jenis khusus. Biasanya diperlukan untuk kebutuhan hotel, kafe, dan restoran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Selasa (19/4/2016) impor beras premium dan khusus dalam periode Januari-Maret mencapai 961.987 ton atau US$ 393 juta.

Ini meningkat sangat signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari-Maret 2015, volume impor beras adalah 66.562 ton dengan nilai US$ 29,2 juta.

Berikut daftar negara asal beras impor:

1. Vietnam
Volume: 500.650 ton
Nilai: US$ 198,4 juta

2. Thailand
Volume: 451.450 ton
Nilai: US$ 189,8 juta

3. Pakistan
Volume: 8.675 ton
Nilai: US$ 3,1 juta

4. India
Volume: 422 ton
Nilai: US$ 1,1 juta

5. China
Volume: 139 ton
Nilai: US$ 498 ribu

6. Akumulasi negara lainnya
Volume: 650 ton
Nilai: US$ 257 ribu

Sumber : www.detikinet.com