Category Archives: Motivation

Dari Bisnis Rendang, Ibu 5 Anak Ini Bisa Beli Rumah, Mobil, dan Sawah

Hai salam PT bpforgit Futures, ini artikel dari detik.com

best profit 88Siapa yang tak kenal makanan khas Sumatera Barat, rendang. Makanan ini diklaim salah satu dari 50 makanan terenak di dunia versi CNN.

 

Erika, seorang warga Payakumbuh, Sumatera Barat salah satu yang beruntung karena rendang. Ibu 5 orang anak ini bisa membeli mobil, rumah hingga sawah dari bisnis rendang.

 

Ia menjalankan usaha berjualan rendang dengan produk atas namanya “Erika”. Awalnya di awal tahun 2000, Erika mulai membuat rendang mengikuti jejak ibu mertuanya yang lebih dahulu menjalankan bisnis yang sama dengan merek “Yolanda”.

 

“Jadi ini turun temurun dari mertua ibu, dia lebih dulu mereknya Yolanda,” kata Erika saat ditemui detikFinance di Pameran produk Sumatera Barat di kantor Kementerian Perindustrian, Jl Gatot Subroto, Jakarta (17/6/2014).

 

Awal usahanya dibantu oleh anak-anaknya yang hanya meneruskan sekolah hingga jenjang SMA. Rendang-rendang dijual di kawasan Payakumbuh, hingga ke Padang. Dari sekolah ke sekolah, toko ke toko, sampai kantor ke kantor.

 

Tak kenal lelah dia dan keluarga terus menjalankan usahanya. Meski kadang ada saja kendala yang menghadang seperti kenaikan harga bahan baku. Hingga 14 tahun sampai sekarang dia telah memiliki 12 orang karyawan yang membantunya memasak, dan 7 orang yang menjadi agen penjual.

 

“Dulu rumah semi permanen, dapur hanya batu-batu saja. Sekarang rumah sudah ada, mobil, sawah dan tanah,” katanya seraya bersyukur.

Banyak produk yang dibuat oleh Erika, tak hanya rendang basah yang menjadi salah satu menu favorit restoran Padang, tapi juga ada rendang telur, rendang suwir, juga rendang paru.

 

Harganya pun bervariasi, rendang basah dijual Rp 200 ribu/kg, sama dengan rendang paru. Sedangkan rendang telur dijual Rp 40 ribu, meski di pameran-pameran, Erika sengaja menaikkan harga.

 

“Tidak ada resep khusus, saya buat hanya pakai bumbu rendang biasa,” katanya sambil sesekali melayani pembeli.

 

Dalam sehari, Erika bisa memproduksi 80 kg rendang telur, 20 kg rendang daging dan 10 kg rendang paru. Rendang daging dan rendang paru bisa tahan sampai 3 bulan, dan rendang telur 1 bulan. Banyak orang yang membeli produknya untuk disimpan dan dimakan kemudian hari.

 

“Yang naik haji bisa bawa buat bekal. Biasanya ramai kalau musim haji,” kata warga Payakumbuh ini.

 

Tak hanya di Indonesia, salah satu agen penjualnya menjajakan makanan khas ini ke negeri tetangga, Malaysia. “Tapi agak sepi,” kata ibu 51 tahun ini.

 

Bisnis dan kisah suksesnya berjualan rendang menjadi pemicu semangat warga Payakumbuh lain. Sekarang sudah banyak warga Payakumbuh yang berjualan produk serupa, yaitu memproduksi rendang menjadi suatu industri daerah Payakumbuh.

 

“Yang pertama mertua ibu (Yolanda). Ibu yang kedua,” tuturnya.

Modal Jutaan Rupiah, Wanita Ini Bisnis Sepatu Cantik Berkain Etnik

http://bisnis.news.viva.co.id

Ia mendapat ilmu berbisnis dari para pengusaha dan pengamat bisnis.

VIVAnews –  Tak ada kata terlambat untuk memulai sebuah usaha. Setidaknya itulah yang dialami Dewi Andriani. Wanita ini pun akhirnya melirik sepatu wanita yang dengan sentuhan kain tradisional sebagai peluang usahanya.Dewi, saat ditemui VIVAnews, mengaku mendapat ilmu berbisnis dari para pengusaha dan pengamat bisnis. Kebetulan dia adalah seorang wartawan sebuah harian nasional dan sempat memegang rubrik peluang usaha. Dari situlah tercetus untuk membuka usaha.

“Dulu, saya sempat (memegang rubrik) peluang usaha. Jadi, kenal dan sering wawancara narasumber. Dari sana, saya mulai terinsipirasi (berusaha), tetapi tidak pernah coba-coba,” kata dia di Jakarta.

Bahkan, lanjut Dewi, narasumbernya pernah menegurnya karena tak kunjung memulai usaha. Bagi wanita yang gemar menulis, teguran itu ibarat “sentilan” untuk segera berusaha.

“Pengamat sampai bilang, ‘Yang kerja itu malah otak kirinya. Yang kanan, malah tidak’. Jadi, saya bisa menulis, tetapi tidak mengaplikasikannya. Rasanya, gimana gitu,” ujar dia.

Pernah Dewi menjadi reseller sepatu. Karena jadwal pekerjaannya yang padat sebagai wartawan, bisnisnya pun terhenti. “Akhirnya, terpikir membuat (usaha) sendiri,” kata dia.

Lantas, perempuan yang berdomisili di Kebagusan, Jakarta Selatan ini bertemu dengan seorang makloon–jasa pembuatan produk oleh pihak lain. Akhirnya, Dewi memutuskan untuk berjualan sepatu. Alasannya, bisnis fashion seperti tas dan pakaian sudah banyak pemainnya, sementara di bidang sepatu, pemainnya belum begitu banyak. “Saya lupa, Januari apa Februari gitu,” jelas dia.

Dengan jasa makloon, Dewi tidak perlu repot-repot mengucurkan dana untuk investasi perajin dan alat mesin. Sebab, dara kelahiran 1987 ini termasuk pemain baru dalam dunia usaha.

“Saya pesan sepatu ke mbaknya (makloon). Mereka yang mengerjakan. Kalau saya menyiapkan investasi orang (perajin) dan mesin, itu berat. Saya menggunakan jasa makloon, karena tidak tahu cara menjahit sepatu yang benar,” kata dia.

Dewi pun memilih nama R&D Shoes. Namanya diambil dari inisial nama kakaknya dan namanya: Rika dan Dewi. Modal yang dikucurkan pun sebanyak Rp7 juta. Dengan uang itu, sepatu yang bisa diproduksi sebanyak 100 pasang dan ada bonus 20 pasang. “Patungan sama kakak, fifty-fifty,” ujar dia.

Tapi sebelumnya, Dewi harus membayar uang muka 50 persen untuk produksi sepatu. Sisanya dibayarkan, setelah seratus pasang sepatu selesai diproduksi.

Sebelum proses produksi, Dewi memilih model, kain, dan bahan-bahan lainnya untuk disulap menjadi sepatu wanita yang cantik. Ada sepatu teplek (flat shoes) dan ada sepatu converse.

Wanita ini pun memproduksi sepatu dengan memadukan kulit imitasi dan kain tradisional cap, seperti kain model ulos, tenun, madura, kawung, songket, dan dayak. Kainnya pun terbuat dari katun.

Dewi memang mengusung kain tradisional sebagai pemanis sepatunya. Tak heran, dia mengangkat tagline “tR&Dy with tRDitional style” yang kira-kira berbunyi “trendy with traditional style“.

“Untuk satu model sepatu flat, hanya ada lima pasang. Tetapi, kalau model converse, pembeli bisa costume pake bahan yang diinginkan. Masa pengerjaannya 7-10 hari,” kata dia.

Harganya pun terjangkau. Sepasang flat shoes dibanderol dengan harga Rp120-140 ribu, sedangkan sepatu converse seharga Rp200 ribu per pasang.

Dewi memasarkan produknya ke teman-temannya dan teman kakaknya. Pembelinya memang baru sebatas teman-temannya. Namun, dia membuka toko online melalui gadget-nya. Dengan cara seperti itu, Dewi bisa mendapatkan reseller sepatunya.

“Ada istrinya temanku di Medan, yang ingin jadi reseller. Setelah deal, akhirnya dia jualan sepatuku di Medan,” kata dia.

Namanya berusaha, tentu berisiko, seperti mendapatkan keluhan pembeli. Dewi berujar, ada pembeli yang mengeluhkan kainnya sepatunya sama dengan sepatu lain, motif kain yang tidak sama antara sepatu kanan dan di kiri, dan ada juga mengeluh tapak sepatu yang terlalu tipis.

“Ke depannya, saya mau perbaiki: sol sepatunya lebih tebal,” ujarnya.

Lalu, bagaimana dengan omzet penjualan? Untuk yang satu ini, Dewi merahasiakannya. “Karena masih baru, (omzet) saya belum terlalu banyak,” kata dia.

Lalu, bagaimana kalau hendak membeli produknya? Dewi mematok pesanan minimal sepatunya sebanyak satu kodi alias dua puluh unit. Pembaca bisa berkunjung ke Jalan Kebagusan Raya, Gang Mansyur No. 99, RT 10/RW 7 Jakarta.

Jika tidak sempat, pembaca juga bisa mengontaknya lewat surat elektronik di rd.shoes14@gmail.com atau akun Facebook: R&DShoes.

“Minimal order sekitar satu kodi, dua puluh pasang. Lamanya pengerjaan 28 hari. Itu kalau untuk model baru ya. Kalau modelnya sudah ada, ya, langsung dikirim. Itu pun dilihat dari stok juga,” kata dia. (asp)

 

Tak Lulus Kuliah, Dua Pemuda Ini Sukses Jadi Miliarder


VIVAnews – Scott Farquhar dan Mike Cannon-Brookes, pendiri Atlassian, perusahaan yang menjual software ke berbagai perusahaan besar di dunia, kini masuk daftar miliarder baru Australia setelah perusahaan IT itu mendapatkan pembiayaan dari investor baru.

Dilansir Forbes, Kamis 10 April 2014, mereka mengumumkan, saat ini nilai perusahaannya mencapai US$3,3 miliar. Baru-baru ini diketahui T. Rowe Price dan Dragoneer Investment Capital menyuntikkan modal baru sebesar US$150 juta di Atlassian.

Farquhar dan Cannon-Brookes, yang saat ini berusia 34 tahun mendirikan perusahaan IT tersebut 12 tahun lalu. Mereka diketahui tidak menjual saham dalam putaran terakhir pendanaan, sehingga diperkirakan masing-masing dari mereka memiliki 1/3 saham perusahaan atau sekitar US$1,1 miliar.

Dilansir Wall Street Journal, pada 2010 Atlassian mendapatkan investasi sebesar US$60 juta dari Accel Partners.

Lalu, apa yang menyebabkan perusahaan IT asal Australia ini berkembang lebih cepat dibanding perusahaan sejenis? Beberapa analis mengatakan hal tersebut karena Atlassian menjalankan model bisnis unik.

Atlassian mengkhususkan diri mengembangkan bisnis software secara online, seperti JIRA, produk yang mengelola proyek dan alur kerja sistem IT.

Produk software yang diproduksi Atlassian kini digunakan oleh 35.000 perusahaan di seluruh dunia, seperti BMW, American Airlines, Cisco, Facebook, dan Citigroup.

Perusahaan IT itu terus berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir dengan tingkat pertumbuhan dalam lima tahun terakhir mencapai 40 persen.

Kedua pendiri bertemu saat masih kuliah di University of New South Wales di Sydney. Mereka yang sama-sama merupakan programmer kemudian mulai mendirikan Atlassian pada 2000an. Karena ingin mengembangkan perusahaan itu lebih serius, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk drop-out dari bangku kuliah.

Modal awal yang mereka gunakan berasal dari utang kartu kredit senilai US$10.000. Atlassian merampingkan pengembangan produk dengan beberapa jenis software yang memungkinkan pebisnis mengatur tugas dan alur kerja sekaligus berkolaborasi dengan proyek.

Berbeda dengan perusahaan software besar dunia seperti Oracle, Box, atau Workday, Atlassian lebih memilih untuk meminimalkan biaya pemasaran. Mereka memasarkan produk mereka secara online dengan harga yang kompetitif.

“Kami rasa jika menjual produk dengan harga wajar di online, kami akan menemukan pasar sendiri di sana,” ujar Farquhar.

Seperti yang dialami banyak perusahaan start-up lainnya, penjualan awal Atlassian hanya dibeli oleh teman-teman dan kenalan sang pendiri. Penjualan kemudian terus berkembang dan memperoleh pembeli besar pertama yakni American Airlines.

“Dari situ kemudian kami mendapatkan pembelian dari perusahaan besar lainnya,” kenang Farquhar.

Sekarang, setelah 12 tahun perusahaan IT itu memiliki pendapatan sebesar US$200 juta. Perusahaan ini memiliki kantor pusat di Sydney dan San Francisco, serta kantor cabang di Amsterdam, Yokohama, dan Manila.

“Sejak awal tujuan kami adalah membangun sebuah perusahaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang. Kami ingin membangun sebuah perusahaan yang tetap akan bertahan menghadapi berbagai ujian. Itulah mengapa kami menghabiskan banyak waktu untuk menciptakan budaya perusahaan,” imbuhnya. (art)